PENGAMATAN PEMANFAATAN MEDIA
DALAM PEMBELAJARAN IPS
PENINGGALAN SEJARAH HINDU-BUDHA
DI KELAS V SDN KEPANJENLOR 3
Oleh:
AtIK nURuL
UNIVERSITAS NEGERI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH
D-II PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
DESEMBER 2007
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran IPS di kelas V SDN Kepanjenlor 3
Verbalisme terjadi apabila guru terlalu banyak atau hanya menggunakan kata-kata dalam menjelaskan isi pelajaran, memberikan contoh-contoh, dan ilustrasi yang diperlukan. Situasi tersebut dapat mengganggu konsentrasi belajar siswa, apalagi jika kata yang digunakan banyak yang terasa asing atau di luar pengetahuan siswa. Apabila guru kurang memahami keadaan latar belakang pengalaman siswanya dan meneruskan cara menyajikan pelajaran yang verbal, maka siswa akan cepat menjadi bosan dengan pelajaran itu. Kesulitan belajar
bertambah besar jika siswa yang belajar adalah seorang yang pemalu dan tidak berani bertanya kepada guru. Bila situasi yang demikian terjadi, maka makna yang keliru dari konsep, objek atau gejala itu akan dibawa siswa untuk waktu yang lama bahkan mungkin sampai ke perguruan tinggi. Selain itu, sejumlah siswa yang sama-sama duduk dalam satu kelas dan mengikuti pelajaran yang sama, belum tentu mempunyai persepsi yang sama tentang tujuan dan isi pelajaran yang dijelaskan. Bahkan persepsi mereka juga mungkin tidak sama mengenai apa yang menjadi tujuan guru mengajarkan topik tertentu. Bila hal ini terjadi, maka siswa akan memperoleh persepsi dan pemahaman yang keliru yang kemudian akan mempengaruhi respon siswa ketika menjawab soal tes. Untuk menghindar dari suasana dan kegiatan kelas yang membosankan, berangan-angan dapat menjadi senjata bela diri yang ampuh bagi siswa. Namun kegemaran berangan-angan dapat mengganggu konsentrasi siswa ketika mengikuti pelajaran dan dapat menghambat tercapainya tujuan pembelajaran.
Untuk mengatasi hambatan dalam proses belajar mengajar khususnya IPS dengan bahasan Peninggalan Sejarah Hindu-Budha, diperlukan media pembelajaran yang dapat mengurangi rasa jenuh siswa, sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang menarik, dan dapat memusatkan perhatian siswa pada pembelajaran IPS tersebut. Oleh karena itu penulis merumuskan judul “Pengamatan Pemanfaatan Media dalam Pembelajaran IPS Peninggalan Sejarah Hindu-Budha di Kelas V SDN Kepanjenlor 3
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, permasalahan yang akan dibahas dalam pengamatan ini antara lain:
1. Apakah media yang digunakan guru dalam pembelajaran IPS Peninggalan Sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3
2. Bagaimanakah pemanfaatan media dalam pembelajaran IPS Peninggalan Sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3
3. Apakah media yang digunakan guru dalam pembelajaran IPS Peninggalan Sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3
C. Tujuan Pengamatan
Tujuan dari pengamatan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui media yang digunakan guru dalam pembelajaran IPS Peninggalan Sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3
2. Untuk mengetahui pemanfaatan media dalam pembelajaran IPS Peninggalan sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3
3. Untuk mengetahui apakah media yang digunakan guru dalam pembelajaran IPS Peninggalan Sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3
D. Definisi Istilah
Definisi istilah dalam pengamatan ini bertujuan untuk menghindari kesalahan arti dan pemahaman bahasa.
1. Pemanfaatan adalah proses, cara, perbuatan memanfaatkan (Tim Penyusun, 1991:626).
2. Media adalah pembawa pesan yang berasal dari suatu sumber pesan (yang dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan (Romiszowski dalam Darmodjo, 1991/1992:8).
3. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (UUSPN NO. 20 tahun 2003).
4. Peninggalan adalah barang yang ditinggalkan, barang sisa (bekas, reruntuhan dari zaman dahulu seperti candi, dan sebagainya) (Tim Penyusun, 1991:1059). Sejarah adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau (Tim Penyusun, 1991:891). Jadi, peninggalan sejarah adalah barang yang ditinggalkan/barang sisa dari kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Tjokrodikaryo (1980:14) menyatakan bahwa ”Ilmu Pengetahuan Sosial adalah suatu kelompok ilmu pengetahuan yang mempersoalkan manusia dan usahanya untuk tetap hidup baik di lingkungan sosial maupun lingkungan fisiknya yang terdiri atas unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, kewarganegaraan, politik, sosiologi, antropologi, dan psikologi”. Sedangkan menurut Marsh (dalam Depdiknas, 2006:101) ”IPS adalah studi tentang manusia sebagai makhluk sosial yang tersusun dalam masyarakat, dan interaksi antara yang satu dengan yang lain, serta dengan lingkungan mereka pada suatu tempat dan waktu tertentu”. Senada dengan yang dikemukakan Marsh, Wright (dalam Depdiknas, 2006:102) juga menyebutkan bahwa ”IPS merupakan area studi tentang interaksi antar manusia, keruangan, dan waktu serta bagaimana mereka menyikapi dan disikapi oleh alam fisik dan lingkungan budaya”.
Berbeda dengan kedua pendapat tersebut, Forum Komunikasi II Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial Indonesia/HISPISI mengemukakan batasan IPS sebagai program pendidikan yang memilih bahan pendidikan dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniti, yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah
dan psikologis untuk tujuan pendidikan (Somantri, 1989). Yang dimaksud ilmiah adalah bahwa IPS disajikan secara sistematis dengan memperhatikan urutan isi yang logis. Sedangkan secara psikologis dimaksudkan bahwa IPS disusun berdasarkan kondisi siswa, guru, ruang kelas, sekolah, yang berbeda dalam: kultur, harapan, lingkungannya dan faktor psikis lainnya. Hal ini menuntut guru untuk memahami karakteristik dan tingkat perkembangan siswanya. Sementara itu pada tahun 1992 National Council for Social Studies/NCSS (dalam Mangkoesapoetra, 2004) mendefinisikan IPS sebagai
“The integrated study of the social sciences and humanities to promote civic competence. Within the school program, social studies provides coordinated, systematic study drawing upon such disciplines as anthropology, archaeology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion, and sociology, as well as appropriate content from the humanities, mathematics, and natural sciences.”
yaitu ”pembelajaran yang menyangkut ilmu-ilmu sosial dan ras manusia untuk menjabarkan kemampuan kewarganegaraan. Di dalam program sekolah, ilmu pengetahuan sosial menyediakan pembelajaran yang terkoordinir, sistematis, menarik meliputi ilmu antropologi, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filosofi, ilmu pengetahuan politis, psikologi, agama, dan sosiologi, yang sesuai dengan ras manusia, matematika, dan ilmu pengetahuan alam”.
Berkenaan dengan IPS yang diajarkan di sekolah dasar, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dalam Mangkoesapoetra, 2004) menerangkan bahwa ”IPS adalah mata pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial yang didasarkan pada bahan kajian pokok geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, tata negara, dan sejarah”.
Dari pengertian para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial adalah suatu kelompok ilmu pengetahuan tentang manusia sebagai makhluk sosial yang tersusun dalam masyarakat, dan interaksi antara yang satu dengan yang lain, serta dengan lingkungan mereka pada suatu tempat dan waktu tertentu yang terdiri atas unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, kewarganegaraan, politik, sosiologi, antropologi, dan psikologi. IPS sangat penting dalam pembentukan pribadi anak, karena Ilmu Pengetahuan Sosial akan mendewasakan jiwa anak, dan anak tidak akan merasa canggung dalam pergaulan di masyarakat yang luas.
2. Karakteristik Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Di Indonesia, pengembangan kurikulum IPS berbeda untuk setiap daerah, tetapi tetap mengacu pada standar kurikulum nasional. Hal ini dikarenakan pendidikan IPS dirancang sesuai kebutuhan masyarakat lokal. Jadi perbedaannya hanya disebabkan oleh pengembangan berupa penambahan, pendalaman, atau perluasan materi. Dalam ruang lingkup tersebut, pendidikan demokrasi yang mengajarkan siswa untuk menerima dan menghargai berbagai keragaman merupakan salah satu isi penting dalam pendidikan IPS. Dalam perkembangan mata pelajaran IPS, terdapat berbagai istilah yang digunakan seperti social studies (pengetahuan sosial), social education (pendidikan sosial), citizenship education (pendidikan kewarganegaraan), dan social science education (ilmu pendidikan sosial). Dari berbagai istilah yang digunakan, menurut NSCC (1994) karakteristik yang selalu melekat pada setiap pembahasan tentang IPS adalah:
a. IPS didisain untuk membantu meningkatkan kemampuan warga negara dalam masyarakat demokratis.
b. IPS bersifat integral, yaitu memadukan berbagai bidang studi untuk mendapatkan pemahaman tentang fenomena yang ada dalam masyarakat secara lebih komprehensif.
Dalam konteks persekolahan di
3. Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD
Menurut Hasan (dalam Depdiknas, 2006:105) secara umum IPS di Sekolah Dasar bertujuan mengembangkan kemampuan berpikir, sikap, dan nilai untuk dirinya sebagai individu, maupun sebagai makhluk sosial dan budaya. Tujuan tersebut bersifat keterampilan proses yang memberikan bekal kepada peserta didik untuk mampu mencari, mengolah, dan menggunakan informasi. Lebih lanjut Hasan (1993) mengemukakan bahwa pendidikan IPS di SD juga bertujuan untuk mengembangkan kemampuan anak dalam berhubungan sosial dengan orang lain, kemampuan berkomunikasi, bersimpati terhadap orang lain, sikap (terutama sikap demokratis), moral dan nilai, terutama ditekankan pada nilai dalam masyarakat yang majemuk berupa keseimbangan antara hak individu dan sosial.
Selain tujuan umum, IPS di SD juga memiliki tujuan khusus yang memuat aspek perilaku demokratis. Secara rinci tujuan khusus IPS menurut Marsh (dalam Depdiknas, 2006:106) antara lain:
a. Memahami hubungan antara masyarakat manusia dan alam sekitar.
b. Menerima integritas individu dan pentingnya mengapresiasi budaya maupun lintas budaya.
c. Memahami saling ketergantungan komunitas masyarakat dan dunia.
d. Menyadari perubahan sebagai sifat alami yang harus dihadapi secara tepat.
e. Memahami dan mengapresiasi sistem hukum.
f. Menghargai diri dan menghormati setiap manusia.
g. Mengembangkan keterampilan berpikir kritis.
h. Memperbaiki keterampilan komunikasi individual maupun kelompok.
i. Menunjukkan tanggung jawab sebagai warga negara melalui partisipasi aktif.
Sedangkan dalam kurikulum 2006 (Depdiknas, 2006:575) dijelaskan bahwa mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
b. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
c. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
d. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.
Dari beberapa tujuan yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan IPS adalah untuk meningkatkan kemampuan warga negara dalam memahami dan menghayati hak dan kewajibannya, dalam rangka membangun masyarakat yang demokratis di tengah-tengah masyarakat yang majemuk.
4. Ruang Lingkup IPS di Sekolah Dasar
Adapun ruang lingkup mata pelajaran IPS dalam kurikulum 2006 (Depdiknas, 2006:575) meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
a. Manusia, tempat, dan lingkungan.
b. Waktu, keberlanjutan, dan perubahan.
c. Sistem sosial dan budaya.
d. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang diajarkan di tingkat sekolah dasar terdiri atas dua bahan kajian pokok, yaitu ilmu pengetahuan sosial dan sejarah. Bahan kajian sejarah meliputi perkembangan bangsa
B. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Dasar
1. Hakikat Pembelajaran IPS di SD
Menurut Dimyati dan Mudjiono (dalam Sagala, 2003:62) pembelajaran adalah ”kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar”. Dalam UUSPN No 20 tahun 2003 juga dijelaskan bahwa ”Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Jadi, pembelajaran merupakan proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berfikir yang dapat meningkatkan berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah ”proses untuk melatih keterampilan para siswa, baik keterampilan fisik maupun keterampilan berpikirnya dalam mengkaji dan mencari jalan keluar atas masalah yang dialaminya” (Depdiknas, 2003). Pembelajaran IPS pada masa sekarang dan ke depan harus berbeda dengan pembelajaran IPS pada masa yang lalu. Dari segi materi pelajaran, terdapat beberapa faktor yang mengharuskan perbedaan tersebut, misalnya IPS pada masa lalu sangat menekankan penguasaan fakta-fakta meski pada tingkat yang rendah, seperti menghafalkan nama-nama gunung, sungai, ibukota negara propinsi, dan sebagainya. IPS lama juga ditandai dengan pembelajaran rasa nasionalisme yang tidak kritis (dogmatis), dan berorientasi pada buku teks.
Sementara itu, pembelajaran IPS sekarang dan akan datang, dari segi materi pelajaran difokuskan pada upaya membantu dan memfasilitasi siswa agar mereka memiliki kemampuan untuk berpartisipasi sebagai warga komunitas, warga negara, dan warga dunia dengan tingkat perubahan yang cepat. Untuk mendapatkan kemampuan tersebut, siswa perlu difasilitasi agar mampu mengembangkan pengetahuan, kecakapan, sikap, nilai-nilai, dan komitmen yang dibutuhkan. Kemampuan tersebut juga dibutuhkan untuk berpartisipasi dalam mengembangkan masyarakat yang demokratis secara bertanggung jawab. Untuk itu, kemampuan mengakui dan menghargai kemajemukan dalam masyarakat sangat penting dikuasai. Hal ini juga dikemukakan oleh Depdiknas (2006:112) bahwa penguasaan pengetahuan dalam pembelajaran IPS pada masa yang akan datang adalah penguasaan pengetahuan pada tingkat yang lebih tinggi dari sekedar menghafalkan fakta-fakta. Dari segi metodologi pembelajaran, seyogyanya dikembangkan metode-metode mengajar yang mampu memfasilitasi siswa untuk melakukan klarifikasi, memiliki kecakapan berfikir (reflektif), dan melakukan identifikasi secara kritis tentang budaya baik di tingkat lokal dekat tempat tinggal, regional, nasional, maupun internasional. Untuk itu sumber belajar yang beragam sangat dibutuhkan.
Sumber belajar adalah ”salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar” (Djamari, dkk, 1991:280). Apabila tidak ada sumber belajar, maka proses belajar tidak akan berjalan. Banyak orang beranggapan bahwa sumber belajar hanyalah buku-buku dan guru, padahal alam dan benda-benda di sekeliling merupakan sumber belajar. Salah satu manfaat menggunakan sumber belajar yang bervariasi adalah dapat menggairahkan anak belajar. Keterlibatan anak dengan lingkungan, khusunya dengan manusia merupakan tuntutan pembelajaran IPS, karena pembelajaran IPS lebih menekankan pada interaksi dengan manusia dan lingkungan.
2. Tujuan Pembelajaran IPS di SD
Tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial menurut Depdiknas (2003) adalah:
a. Memperoleh pengetahuan.
b. Mengembangkan kemampuan berpikir dan menarik kesimpulan secara kritis.
c. Melatih kemampuan belajar mandiri.
d. Mengembangkan kebiasaan dan keterampilan yang bermakna.
e. Melatih menggunakan pola-pola kehidupan di masyarakat.
Sementara menurut Nursid (1984) tujuan pembelajaran IPS adalah mengembangkan kemampuan dan keterampilan agar siswa mampu hidup selaras, serasi, dan seimbang di lingkungannya.
3. Kelemahan Pembelajaran IPS di SD
Dalam kenyataan hidup di masyarakat, mata pelajaran IPS dalam pandangan orang tua siswa menempati kedudukan ”kelas dua” dibandingkan dengan posisi IPA. Hal ini karena proses pembelajaran IPS di tingkat persekolahan memiliki kelemahan antara lain:
1. Kurang memperhatikan perubahan-perubahan dalam tujuan, fungsi , dan peran IPS di sekolah sehingga tujuan pembelajaran kurang jelas dan tidak tegas.
2. Posisi, peran, dan hubungan fungsional dengan bidang studi lainnya terabaikan. Informasi faktual lebih bertumpu pada buku paket yang out of date dan kurang mendayagunakan sumber-sumber lainnya.
3. Guru tidak dapat meyakinkan siswa untuk belajar IPS lebih bergairah dan bersungguh-sungguh. Siswa tidak dibelajarkan untuk membangun konseptualisasi yang mandiri.
4. Guru lebih mendominasi siswa (teacher centered), kadar pembelajaran yang rendah, dan kebutuhan belajar siswa tidak terlayani.
5. Belum membiasakan pengalaman nilai-nilai kehidupan demokrasi sosial kemasyarakatan dengan melibatkan siswa dan seluruh komunitas sekolah dalam berbagai aktivitas kelas dan sekolah. Dalam pertemuan kelas tidak mengagendakan setting lokal, nasional, dan global, khususnya berkaitan dengan struktur sistem sosial dan perilaku kemasyarakatan.
(Mangkoesapoetra, 2004)
C. Media Pengajaran
1. Pengertian Media Pengajaran
Istilah media pengajaran diartikan dengan berbagai cara. Menurut pandangan E.De Corte (dalam Winkel, 1987:285) menyatakan bahwa ”Media pengajaran diartikan sebagai suatu sarana nonpersonal (bukan manusia) yang digunakan untuk disediakan oleh tenaga pengajar, yang memegang peranan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan instruksional”.
Biasanya orang membatasi pengertian media pengajaran dengan menekankan suatu maksud tertentu yang dikehendaki, sesuai dengan ruang lingkup yang menjadi pokok pembicaraan, walaupun pada dasarnya ada kesamaan pengertian. Hal ini dapat dilihat dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh pakar pendidikan. Umar Hambalik (dalam Ibrahim, 1981:3) berpendapat bahwa ”Media pendidikan adalah alat, metode, teknik yang digunakan dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Sementara menurut Arikunto (1991:15) ”Media pengajaran adalah suatu sarana yang digunakan untuk menampilkan pelajaran”. Pendapat yang sejalan juga dikemukakan oleh Umar Soewito (dalam Arikunto, 1991:15) ”Media pendidikan adalah sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar untuk lebih mempertinggi efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pendidikan”.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa media pengajaran adalah sarana atau alat yang digunakan untuk mempertinggi efektifitas dan efisiensi pencapaian tujuan pengajaran baik tujuan umum maupun tujuan khusus. Dengan menggunakan media pengajaran, guru dapat memperkaya, memperluas, dan memperdalam proses belajar mengajar, lebih-lebih bila tersedia media yang merangsang lebih dari 1 organ penginderaan. Maka tersedianya sejumlah media pengajaran, memberikan sejumlah alternatif kepada guru untuk memilih alat mana yang paling sesuai, dengan mengingat keuntungan dan kelemahan dari masing-masing media pengajaran.
2. Penggolongan Media Pengajaran
Menurut P.Ely dan Gerlack (dalam Ibrahim, 1981:27) media pengajaran dapat digolongkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya dan dibagi menjadi delapan tipe sebagai berikut:
a. Benda sebenarnya, meliputi: orang, kejadian, obyek/benda tertentu.
b. Presentasi verbal, meliputi: media cetak, kata-kata yang diproyeksikan melalui slide, filmstrip, transparansi, juga catatan di papan tulis, majalah dinding, papan tempel dan sebagainya.
c. Presentasi grafis, meliputi: grafik, chart, peta, diagram, lukisan, gambar.
d. Potret diam (still picture).
e. Film (motion picture).
f. Rekaman suara (audio recorder).
g. Program terkenal dengan pengajaran berprogama, yakni sikwen dari informasi baik verbal, visual atau audio yang sengaja dibuat untuk merangsang respon siswa.
h. Simulasi.
Darmodjo (1991/1992) menggolongkan media pengajaran sebagai berikut:
a. Media Audio
Media audio berfungsi untuk menyalurkan pesan audio dari sumber ke penerima pesan. Media audio berkaitan erat dengan indera pendengaran. Beberapa jenis media yang dapat dikelompokkan dalam media audio antara lain: radio, tape recorder, phonograph, dan telepon. Media audio dalam proses pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi audio, membuat suasana belajar menjadi lebih mantap dan komunikatif, serta meningkatkan kemampuan apresiasi dan imajinasi siswa terhadap kejadian atau peristiwa yang sedang disajikan.
b. Media Visual
Darmodjo (1991/1992:27) membedakan media visual menjadi dua yaitu media visual diam dan media visual gerak. Jenis-jenis media yang dapat dikelompokkan ke dalam media visual diam diantaranya: foto, gambar pilihan dan potongan gambar, transparansi, serta grafik, bagan, diagram, poster, gambar kartun, peta dan globe. Sedang media visual gerak meliputi gambar-gambar proyeksi bergerak seperti film bisu dan sebagainya.
Dalam proses pembelajaran, menurut Darmodjo (1991/1992:28) media visual berfungsi untuk mengembangkan kemampuan visual, mengembangkan imajinasi anak, membantu meningkatkan penguasaan anak terhadap hal-hal yang abstrak, atau peristiwa yang tidak mungkin dihadirkan di dalam kelas, serta mengembangkan kreativitas siswa. Tetapi dalam penggunaannya, media visual memiliki kelebihan dan keterbatasan. Kelebihan media visual yang dikemukakan oleh Darmodjo (1991/1992:28) diantaranya: harganya murah, mudah didapat, mudah digunakan, dapat memperjelas persoalan, lebih realistis, dapat membantu mengatasi keterbatasan pengamatan, serta mengatasi keterbatasan ruang dan waktu. Sedangkan keterbatasan media visual antara lain: ukuran gambar seringkali kurang tepat untuk pembelajaran dalam kelompok besar, semata-mata hanya medium visual, dan dalam penggunaannya memerlukan ketersediaan sumber dan keterampilan serta kejelian guru untuk dapat memanfaatkannya.
c. Media Audio Visual
Media audio visual memiliki kemampuan untuk dapat mengatasi kekurangan dari media audio atau media visual semata. Ditinjau dari karakteristiknya media audio visual dapat dibedakan menjadi dua yaitu: media audio visual diam dan media audio visual gerak (Darmodjo, 1991/1992:47). Jenis-jenis media pengajaran yang tergolong dalam media audio visual diam antara lain ”slow scan TV”, ”Time Shared TV”, TV diam, film rangkai bersuara, dan film bingkai bersuara. Sedang yang tergolong dalam media audio visual gerak adalah film bersuara, pita video, dan film TV.
d. Media Serbaneka
Media serbaneka yang digunakan sebagai media pengajaran meliputi gambar candi, gambar arca, media tiga dimensi (miniatur candi, model, mock-ups, dan relita), media teknik dramatisasi (drama bebas dan bermain peran), sumber belajar pada masyarakat (karya wisata dan kemah kerja), komputer, dan simulator.
3. Kegunaan Media Pengajaran
Dalam proses belajar mengajar, media pengajaran dapat digunakan sebagai alat bantu mengajar (dependent media) dan sebagai media belajar yang dapat digunakan sendiri oleh siswa (independent media). Sebagai alat bantu mengajar, efektivitas media tergantung pada cara dan kemampuan guru untuk memakainya. Sedangkan sebagai media dalam kegiatan belajar mandiri siswa, media itu dirancang, dikembangkan, dan diproduksi secara sistematik, serta dapat menyalurkan informasi secara terarah untuk mencapai tujuan instruksional tertentu.
Menurut Encyclopedia of Education Research (dalam Usman, 2004:32) media pengajaran memiliki kegunaan sebagai berikut:
a. Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berfikir, oleh karena itu dapat mengurangi verbalisme (tahu istilah tetapi tak tahu arti, tahu nama tetapi tidak tahu bendanya).
b. Memperbesar perhatian siswa.
c. Membuat pelajaran lebih menetap/tidak mudah dilupakan.
d. Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan para siswa.
e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu.
f. Membantu tumbuhnya pengertian dan membantu perkembangan kemampuan berbahasa.
Selain kegunaan di atas, ada kegunaan lain dari media pengajaran yang dikemukakan Usman (2004:32) yaitu:
a. Sangat menarik minat siswa dalam belajar.
b. Mendorong anak untuk bertanya dan berdiskusi karena ia ingin mengetahui lebih banyak.
c. Menghemat waktu belajar. Guru tidak perlu menerangkan sesuatu dengan banyak perkataan tetapi dengan memperlihatkan suatu gambar, benda sebenarnya/alat lain.
Sementara, Darmodjo (1991/1992:8-10) juga mengemukakan kegunaan media pengajaran sebagai berikut:
a. Media mampu memperlihatkan gerakan secara cepat yang sulit diamati dengan cermat oleh mata biasa.
b. Media dapat memperbesar benda-benda kecil yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang.
c. Sebuah objek yang sangat besar tentu saja tidak dapat dibawa ke dalam kelas. Benda-benda seperti ini dapat diganti dengan realita, gambar, film bingkai, atau model yang digunakan guru dalam memberikan penjelasan di kelas.
d. Objek yang terlalu kompleks misalnya mesin atau jaringan radio, dapat disajikan dengan menggunakan diagram atau model yang disederhanakan.
e. Media dapat menyajikan suatu proses atau pengalaman hidup yang utuh.
f. Guru tentu tidak dapat membawa benda-benda berbahaya seperti harimau, bom, orang sakit dan sebagainya ke dalam kelas. Benda-benda ini dapat dibawa ke dalam kelas dalam bentuk media seperti gambar foto, gambar video, film, atau film bingkai.
Dari beberapa kegunaan media tersebut, nampak media sangat penting dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran dapat membantu guru dalam menyampaikan materi sehingga dapat menghemat waktu pembelajaran. Selain itu, media juga dapat mengurangi verbalisme, dapat menarik perhatian dan minat siswa dalam belajar, dapat memberikan pengalaman nyata yang membuat pembelajaran tersebut tidak mudah dilupakan oleh siswa, serta dapat menghilangkan kebosanan siswa pada pembelajaran sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar.
BAB III
METODOLOGI PENULISAN
A. Metode Penulisan
Dalam pengamatan pemanfaatan media dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3
B. Sasaran Penulisan
Dalam pengamatan, penentuan sasaran pengamatan merupakan bagian terpenting yang harus dilakukan agar dalam pembahasan dan pembuatan kesimpulan serta saran tidak terjadi kesalahan. Sasaran penulisan dalam kegiatan pengamatan pemanfaatan media dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3 kota Blitar adalah siswa kelas V yang berjumlah 14 anak, guru mata pelajaran IPS kelas V, proses pembelajaran, dan media pembelajaran yang digunakan guru mata pelajaran IPS.
C. Instrumen Penulisan
Instrumen penulisan adalah alat yang digunakan untuk pengumpulan data pengamatan. Instrumen pengumpulan data yang digunakan disesuaikan dengan
jenis data yang hendak dikumpulkan. Oleh karena itu, instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam pengamatan adalah angket.
Angket merupakan alat pengumpul data (informasi) melalui komunikasi tidak langsung, yaitu melalui tulisan (Kartadinata, 1998/1999:42). Penggunaan angket hanya diperuntukkan terhadap siswa kelas V SDN Kepanjenlor 3
D. Teknik Pengumpulan Data
Pengamatan dilakukan dengan cara mengamati langsung dan mengumpulkan data mengenai pemanfaatan media dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3
1. Observasi
Observasi adalah ”teknik atau cara untuk mengamati suatu keadaan atau suatu kegiatan (tingkah laku)” (Kartadinata, 1998/1999:34). Dalam kegiatan observasi dibantu dengan alat observasi yaitu lembar pengamatan, dan teknik observasi yang digunakan adalah observasi partisipatif yang artinya observer berada di dalam situasi yang sedang diamati.
Observasi dilakukan pada tanggal 7 dan 14 September 2007 terhadap guru dan siswa pada saat pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3 kota Blitar. Observasi terhadap guru yaitu pemanfaatan media pembelajaran oleh guru, sedangkan observasi terhadap siswa meliputi semua aktivitas siswa selama pembelajaran di dalam kelas terutama motivasi siswa dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha dengan bantuan media pembelajaran.
2. Wawancara
Wawancara adalah ”teknik untuk mengumpulkan informasi melalui komunikasi langsung dengan responden (orang yang diminta informasi)” (Kartadinata, 1998/1999:39). Wawancara dilaksanakan pada tanggal 12 Oktober 2007 dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang diperlukan dengan menyusun dan merencanakan pertanyaan terlebih dahulu. Wawancara ditujukan kepada guru mata pelajaran IPS kelas V SDN Kepanjenlor 3
E. Teknik Analisis Data
Data/informasi yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan angket terhadap siswa dianalisis dengan teknik analisis deskriptif. Dengan teknik ini dapat diungkap tentang alasan guru dalam pemilihan media pembelajaran, pemanfaatan media oleh guru dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha di kelas V dan motivasi siswa terhadap pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha. Proses analisis data diawali dengan mengolah dan menelaah data observasi dan wawancara, serta melakukan tabulasi data untuk mengetahui distribusi frekuensi dari pilihan jawaban responden (siswa) dalam angket. Untuk mengetahui frekuensi dari masing-masing pilihan jawaban siswa, dapat dilakukan dengan pendekatan prosentase (%) yang rumusnya sebagai berikut:
(Sudijono, 1991:40-41)
Keterangan:
p = angka persentase
f = frekuensi yang sedang dicari persentasenya.
N = Number of cases (jumlah frekuensi/banyaknya individu)
Dari hasil analisis data, kemudian dilaksanakan pembahasan dengan mengacu pada rumusan masalah, dan diambil kesimpulan serta mengemukakan saran-saran yang relevan dan dipandang perlu sesuai dengan hasil pengamatan.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Penyajian Data
Berkenaan dengan pelaksanaan pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3 kota Blitar, ada tiga hal yang akan dipaparkan yaitu mengenai media yang digunakan guru dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha, pemanfaatan media oleh guru dalam pembelajaran IPS peninggalan Hindu-Budha, dan apakah media yang digunakan guru dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha dapat menghilangkan kebosanan siswa sehingga dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar IPS.
Tabel 4.1 Hasil Observasi/Pengamatan Pemanfaatan Media dalam Pembelajaran IPS Peninggalan Sejarah Hindu-Budha di Kelas V SDN Kepanjenlor 3 Pada Tanggal 7 September 2007 dan 14 September 2007
| No. | Aspek yang diamati | Observasi/pengamatan | |
| Tanggal 7 September 2007 | Tanggal 14 September 2007 | ||
| 1. 2. 3. 4. | Guru Media Pembelajaran Pemanfaatan Media Pembelajaran Siswa | a. Dalam proses pembelajaran, guru dapat menertibkan suasana kelas dengan baik. Hal ini terbukti dengan tidak ada siswa yang ramai/gaduh. b. Guru dapat menyampaikan materi dengan baik kepada siswa. Guru tidak menggunakan media apapun dalam pembelajaran. Guru hanya menggunakan buku sumber untuk menyampaikan materi. - Pada awal pembelajaran siswa tampak antusias menjawab pertayaan dari guru tentang peninggalan sejarah Hindu-Budha yang ada di daerah setempat. Tetapi ketika setengah dari jam pembelajaran berlangsung, tampak beberapa siswa mengantuk dan bermain sendiri karena bosan mendengarkan ceramah dari guru. | a. Dalam proses pembelajaran, guru dapat menertibkan suasana kelas dengan baik. Guru menanggapi semua pertanyaan yang diajukan oleh siswa. b. Guru dapat menyampaikan materi dengan baik kepada siswa. Guru menggunakan gambar candi dan gambar arca, serta miniatur candi sebagai media pembelajaran. a. Dalam proses pembelajaran, media gambar hanya digunakan sebagai pajangan oleh guru. Guru hanya memperkenalkan gambar-gambar pada media tanpa menjelaskan lebih rinci. b. Guru memanfaatkan miniatur candi dengan baik. Guru meminta masing-masing siswa untuk memperhatikan dan menjelaskan media. Selain itu guru juga memberii penjelasan tentang media yang digunakan. Selama pembelajaran berlangsung, siswa antusias mengikuti pembelajaran. Siswa merasa senang (tidak bosan) dan aktif bertanya kepada guru tentang media yang digunakan dan materi yang dipelajari. |

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Penyajian Data
Berkenaan dengan pelaksanaan pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3 kota, ada tiga hal yang akan dipaparkan yaitu mengenai media yang digunakan guru dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha, pemanfaatan media oleh guru dalam pembelajaran IPS peninggalan Hindu-Budha, dan apakah media yang digunakan guru dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha dapat menghilangkan kebosanan siswa sehingga dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar IPS.
Tabel 4.1 Hasil Observasi/Pengamatan Pemanfaatan Media dalam Pembelajaran IPS Peninggalan Sejarah Hindu-Budha di Kelas V SDN Kepanjenlor 3 Pada Tanggal 7 September 2007 dan 14 September 2007
| No. | Aspek yang diamati | Observasi/pengamatan | |
| Tanggal 7 September 2007 | Tanggal 14 September 2007 | ||
| 1. 2. 3. 4. | Guru Media Pembelajaran Pemanfaatan Media Pembelajaran Siswa | a. Dalam proses pembelajaran, guru dapat menertibkan suasana kelas dengan baik. Hal ini terbukti dengan tidak ada siswa yang ramai/gaduh. b. Guru dapat menyampaikan materi dengan baik kepada siswa. Guru tidak menggunakan media apapun dalam pembelajaran. Guru hanya menggunakan buku sumber untuk menyampaikan materi. - Pada awal pembelajaran siswa tampak antusias menjawab pertayaan dari guru tentang peninggalan sejarah Hindu-Budha yang ada di daerah setempat. Tetapi ketika setengah dari jam pembelajaran berlangsung, tampak beberapa siswa mengantuk dan bermain sendiri karena bosan mendengarkan ceramah dari guru. | a. Dalam proses pembelajaran, guru dapat menertibkan suasana kelas dengan baik. Guru menanggapi semua pertanyaan yang diajukan oleh siswa. b. Guru dapat menyampaikan materi dengan baik kepada siswa. Guru menggunakan gambar candi dan gambar arca, serta miniatur candi sebagai media pembelajaran. a. Dalam proses pembelajaran, media gambar hanya digunakan sebagai pajangan oleh guru. Guru hanya memperkenalkan gambar-gambar pada media tanpa menjelaskan lebih rinci. b. Guru memanfaatkan miniatur candi dengan baik. Guru meminta masing-masing siswa untuk memperhatikan dan menjelaskan media. Selain itu guru juga memberii penjelasan tentang media yang digunakan. Selama pembelajaran berlangsung, siswa antusias mengikuti pembelajaran. Siswa merasa senang (tidak bosan) dan aktif bertanya kepada guru tentang media yang digunakan dan materi yang dipelajari. |
Hasil pengamatan dalam Tabel 4.1 di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut.
1. Pada observasi/pengamatan tanggal 7 September 2007 (pengamatan ke I) dan tanggal 14 September 2007 (pengamatan ke II) guru dapat menertibkan suasana kelas dengan baik. Hal ini terbukti tidak ada siswa yang ramai/gaduh. Dan pada pengamatan ke II guru tidak mengalami kesulitan dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh siswa. Selain itu, guru dapat menyampaikan materi dengan baik kepada siswa.
2. Pada pengamatan ke I, guru tidak menggunakan media apapun. Guru hanya menggunakan buku sumber dalam menyampaikan materi. Sedangkan pada pengamatan ke II, guru menggunakan gambar candi dan gambar arca, serta miniatur candi sebagai media pembelajaran.
3. Pada pengamatan ke II, dalam proses pembelajaran guru hanya menggunakan media gambar sebagai pajangan. Guru hanya memperkenalkan gambar-gambar pada media tanpa penjelasan lebih rinci. Tetapi guru memanfaatkan miniatur candi dengan baik. Masing-masing siswa diminta untuk mengamati dan menjelaskan media, selain itu guru juga memberi penjelasan tentang media yang digunakan.
4. Pada pengamatan ke I, di awal pembelajaran siswa tampak antusias menjawab pertanyaan dari guru tentang peninggalan sejarah yang ada di daerah setempat. Tetapi ketika setengah dari jam pembelajaran berlangsung, tampak beberapa siswa mengantuk dan bermain sendiri karena bosan mendengarkan ceramah dari guru. Sedangkan pada pengamatan ke II, selama pembelajaran berlangsung siswa antusias mengikuti pembelajaran. Siswa merasa senang (tidak bosan) dan aktif bertanya kepada guru berkaitan dengan media yang digunakan dan materi yang dipelajari.
Berdasarkan wawancara dengan guru pada tanggal 12 Oktober 2007 tentang pembelajaran IPS di Sekolah Dasar (SD), diperoleh hasil seperti yang dideskripsikan dalam Tabel 4.2 berikut ini.
Tabel 4.2 Hasil Wawancara dengan Guru Mata Pelajaran IPS Kelas V pada tanggal 12 Oktober 2007 tentang Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar (SD)
| No. | Pertanyaan wawancara | Hasil Wawancara |
| 1. 2. 3. 4. | Menurut anda, bagaimanakah seharusnya pembelajaran IPS di SD itu? Setujukah anda jika siswa beranggapan kalau pembelajaran IPS itu membosankan? Bagaimanakah cara anda memotivasi siswa dalam pembelajaran? Apakah alasan anda memilih gambar candi dan gambar arca, serta miniatur candi sebagai media pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha? | Pembelajaran IPS di SD seharusnya terus dikembangkan, yaitu dengan mengembangkan metode-metode dan media pembelajaran agar pembelajaran IPS mampu membantu siswa berpikir kritis dan sistematis dalam menanggapi fenomena sosial dan mampu berhubungan sosial dengan orang lain. Karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain. Saya setuju jika siswa menganggap pembelajaran IPS itu membosankan. Hal ini terlihat dari kurang aktifnya siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Banyak siswa yang bermain sendiri, berbicara dengan teman, dan ada pula yang meminta untuk cepat pulang. Cara memotivasi siswa dalam pembelajaran, salah satunya dengan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda atau dengan menggunakan media pembelajaran yang selama ini jarang saya lakukan. Tentunya hal tersebut dapat menarik perhatian siswa pada pembelajaran. Gambar candi dan gambar arca, serta miniatur candi saya gunakan sebagai media pembelajaran karena mudah didapat, mudah digunakan, dapat memperjelas materi, dan dapat mengatasi keterbatasan waktu pembelajaran. |
Berdasarkan data temuan dalam Tabel 4.2 di atas dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Guru berpendapat bahwa seharusnya pembelajaran IPS di SD terus dikembangkan, yaitu dengan mengembangkan metode-metode dan media pembelajaran agar pembelajaran IPS mampu membantu siswa berpikir kritis dan sistematis dalam menanggapi fenomena sosial dan mampu berhubungan sosial dengan orang lain. Karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain.
2. Guru setuju jika siswa menganggap pembelajaran IPS membosankan. Hal ini terlihat dari kurang aktifnya siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Banyak siswa yang bermain sendiri, berbicara dengan teman, dan ada pula yang meminta untuk cepat pulang.
3. Guru berpendapat bahwa salah satu cara untuk memotivasi siswa adalah dengan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda atau dengan menggunakan media pembelajaran yang tentunya dapat menarik perhatian siswa pada pembelajaran.
4. Guru memilih gambar candi dan gambar arca, serta miniatur candi sebagai media pembelajaran dengan alasan media tersebut mudah didapat, mudah digunakan, dapat memperjelas materi, dan dapat mengatasi keterbatasan waktu pembelajaran.
Selain itu, berdasarkan angket siswa diperoleh hasil seperti yang dipaparkan dalam Tabel 4.3 berikut ini.
Tabel 4.3 Hasil Angket Siswa Kelas V tentang Pemanfaatan Media dalam Pembelajaran IPS Peninggalan Sejarah Hindu-Budha
| No. | Pertanyaan | Jumlah jawaban | Persentase (%) jawaban | ||||
| a | b | c | a | b | c | ||
| 1. 2. 3. 4. 5. | Menurut kamu, bagaimanakah pembelajaran IPS itu? a. menyenangkan b. membosankan c. biasa saja Menurutmu, apakah cara mengajar gurumu menyenangkan? a. ya b. tidak Apakah dengan bantuan media pembelajaran seperti gambar, kamu merasa senang dan tertarik untuk belajar IPS? a. ya b. tidak Apakah dengan bantuan media pembelajaran seperti gambar, kamu bisa memahami pembelajaran IPS dengan baik? a. ya b. tidak Apakah kamu setuju diajak berkarya wisata misalnya ke Candi Penataran dalam materi pembelajaran IPS peninggalan sejaran Hindu-Budha? a. setuju b. tidak setuju | 2 9 14 10 14 | 11 5 0 4 0 | 1 - - - - | 14 64 100 71 100 | 79 36 0 29 0 | 7 - - - - |
Dari Tabel 4.3 di atas dapat diketahui pendapat siswa tentang pembelajaran IPS dan manfaat media dalam pembelajaran. Hasil angket tersebut dapat diinterpretasikan sebagai berikut.
1. Pertanyaan nomor 1, terdapat 2 siswa (14%) yang berpendapat bahwa pembelajaran IPS menyenangkan, 11 siswa (79%) berpendapat bahwa pembelajaran IPS membosankan, sedangkan 1 siswa (7%) berpendapat bahwa pembelajaran IPS biasa saja.
2. Pertanyaan nomor 2, terdapat 9 siswa (64%) menganggap bahwa cara mengajar guru menyenangkan. Sedangkan 5 siswa atau 36% menganggap bahwa cara mengajar guru tidak menyenangkan.
3. Pertanyaan nomor 3, dari 14 siswa (100%) ternyata kesemuanya merasa senang dan tertarik untuk belajar IPS jika dibantu dengan media pembelajaran.
4. Pertanyaan nomor 4, terdapat 10 siswa (71%) yang bisa memahami materi pembelajaran IPS dengan bantuan media pembelajaran. Sedangkan 4 siswa (29%) tidak bisa memahami materi pembelajaran IPS meski dengan bantuan media pembelajaran.
5. Pertanyaan nomor 5, semua siswa (14 orang) atau 100% siswa setuju diajak berkarya wisata misalnya ke Candi Penataran dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha di kelas V.
B. Pembahasan
Dari temuan pengamatan, berdasarkan hasil observasi pada tanggal 7 dan 14 September 2007 dan wawancara pada tanggal 12 Oktober 2007 terhadap pengamatan pemanfaatan media dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3 kota Blitar menunjukkan bahwa pada observasi/pengamatan ke I, guru tidak menggunakan media apapun dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan guru tidak terbiasa menggunakan media dalam pembelajaran dan hanya terpancang pada buku dalam menyampaikan materi, selain itu sekolah tidak memiliki media yang sesuai dengan materi yang dipelajari. Sedangkan pada pengamatan ke II, media yang digunakan guru dalam pembelajaran adalah gambar candi dan gambar arca, serta miniatur candi. Pemilihan media tersebut didasarkan pada kemudahan untuk mendapatkan dan menggunakannya. Selain itu media tersebut dapat memperjelas materi, menumbuhkan imajinasi siswa terhadap benda sesugguhnya di dalam materi pembelajaran, serta dapat mengatasi keterbatasan waktu pembelajaran. Akan tetapi media yang dipilih oleh guru memiliki kelemahan diantaranya: ukuran media kurang tepat untuk pembelajaran dalam kelompok besar, semata-mata hanya medium visual, dan dalam penggunaannya memerlukan ketersediaan sumber dan keterampilan serta kejelian guru untuk dapat memanfaatkannya. Melihat kelemahan pada media tersebut, maka diperlukan media lain yang dapat meningkatkan imajinasi, motivasi, dan ketertarikan siswa pada pembelajaran. Misalnya dengan menggunakan foto benda-benda peninggalan sejarah Hindu Budha, menggunakan rekaman video tentang peninggalan-peninggalan sejarah Hindu Budha, atau dengan mengajak siswa berkarya wisata ke Candi Penataran dan museumnya yang merupakan salah satu peninggalan sejarah Hindu di Blitar. Namun penggunaan media tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit, akan tetapi tidak sedikit pula pengetahuan yang diperoleh siswa melalui media tersebut, karena siswa memperoleh pengetahuan secara langsung sehingga akan selalu diingat oleh siswa.
Berbeda dengan hasil wawancara dengan guru, pada kenyataannya guru kurang memanfaatkan media dalam pembelajaran. Kenyataan tersebut sesuai dengan hasil angket siswa yang menunjukkan bahwa beberapa siswa beranggapan cara mengajar guru tidak menyenangkan. Padahal guru berpendapat pembelajaran IPS di SD seharusnya terus dikembangkan melalui pengembangan metode dan media pembelajaran, akan tetapi dalam kenyataan pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha di kelas, guru kurang maksimal dalam melaksanakan hal tersebut. Hal ini dikarenakan guru lebih terpancang pada buku sumber untuk menyampaikan materi. Padahal materi pembelajaran IPS difokuskan pada upaya membantu dan memfasilitasi agar siswa memiliki kemampuan untuk berpartisipasi sebagai warga negara maupun warga masyarakat yang demokratis dan bertanggung jawab. Karena pembelajaran IPS tidak lagi hanya sekedar menghafalkan fakta-fakta tetapi lebih menekankan pada pengembangan kemampuan untuk berhubungan sosial dengan orang lain, kemampuan berkomunikasi, bersimpati terhadap orang lain, memiliki sikap demokratis, memiliki moral dan nilai yang ditekankan pada nilai dalam masyarakat yang majemuk yaitu berupa keseimbangan antara hak individu dan sosial. Jadi, jika guru hanya berpedoman pada buku sumber tanpa melakukan pengembangan pada pembelajaran, maka anggapan siswa sesuai hasil angket yang menunjukkan bahwa 79% atau 11 siswa beranggapan bahwa pembelajaran IPS adalah pembelajaran yang membosankan tidak dapat dihilangkan sehingga tujuan pembelajaran IPS kurang tercapai.
Penggunaan media gambar candi dan gambar arca, serta miniatur candi dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha dapat membantu siswa untuk meningkatkan motivasi dalam belajar IPS. Hal ini terbukti ketika dalam pembelajaran guru hanya menyampaikan materi dengan ceramah, tanpa menggunakan media pembelajaran, hampir semua siswa bersifat pasif dalam pembelajaran. Kenyataan tersebut berbeda ketika guru menggunakan media gambar candi dan gambar arca, serta miniatur candi dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha. Siswa antusias dan senang ketika memperhatikan dan menjelaskan media gambar candi dan gambar arca, serta miniatur candi yang disediakan oleh guru. Siswa aktif mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi pembelajaran melalui media, meskipun guru kurang memanfaatkan media dengan baik. Selain itu, hasil angket juga menunjukkan bahwa pada saat guru menggunakan media dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu Budha, siswa merasa senang mengikuti pembelajaran di dalam kelas, dan hal tersebut dapat membantu siswa untuk memahami materi pembelajaran IPS.
Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pada pengamatan ke I guru tidak menggunakan media dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan guru tidak terbiasa menggunakan media dalam pembelajaran dan hanya terpancang pada buku dalam menyampaikan materi, selain itu sekolah tidak memiliki media yang sesuai dengan materi yang dipelajari. Akibatnya siswa merasa bosan karena pembelajaran tidak menyenangkan. Pada pengamatan ke II, guru menggunakan gambar candi dan gambar arca, serta miniatur candi sebagai media pembelajaran. Siswa merasa senang dan antusias mengikuti pembelajaran, meskipun guru kurang memanfaatkan media tersebut. Jadi, jika guru lebih optimal dalam memanfaatkan media, maka siswa juga akan lebih senang/antusias dan antusiasme tersebut dapat menghilangkan kebosanan siswa pada pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha, sehingga mampu meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.
BAB V
PENUTUP
Bab ini memaparkan kesimpulan dan saran-saran dari hasil pengamatan, sebagai berikut:
A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis hasil pengamatan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Pada pengamatan ke I, guru tidak menggunakan media apapun dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha. Hal ini dikarenakan guru tidak terbiasa menggunakan media dalam pembelajaran dan hanya terpancang pada buku dalam menyampaikan materi, selain itu sekolah tidak mempunyai media yang sesuai dengan materi yang dipelajari. Sedangkan pada pengamatan ke II, media yang digunakan guru dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha adalah gambar candi dan gambar arca, serta miniatur candi.
2. Pada pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3
3. Penggunaan media gambar candi dan gambar arca, serta miniatur candi dalam pembelajaran IPS peniggalan sejarah Hindu-Budha di kelas V SDN Kepanjenlor 3
B. Saran
Berdasarkan hasil pengamatan, dikemukakan saran yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya pembelajaran IPS di SDN Kepanjenlor 3 diantaranya:
1. Bagi guru
a. Dalam setiap pembelajaran, khususnya pembelajaran IPS peniggalan sejarah Hindu-Budha perlu penggunaan media baru yang menarik dan jarang digunakan seperti: foto dan video peninggalan sejarah, serta karya wisata ke tempat bersejarah. Hal ini dimaksudkan agar dapat menarik minat dan perhatian siswa pada pembelajaran sehingga siswa tidak merasa bosan dan termotivasi untuk belajar IPS.
b. Dalam pembelajaran IPS peninggalan sejarah Hindu-Budha, guru harus lebih optimal dalam memanfaatkan media pembelajaran misalnya memperbesar ukuran media yang digunakan (gambar candi dan arca, serta miniatur candi), dan memberikan penjelasan terhadap media yang digunakan, agar siswa merasa senang mengikuti pembelajaran sehingga siswa lebih antusias dan termotivasi untuk belajar IPS.
2. Bagi kepala sekolah
a. Perlu peningkatan pengawasan dan pemberian supervisi terhadap guru dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Hal ini dimaksud sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan guru dan siswa khususnya dalam pembelajaran IPS.
b. Perlu peningkatan ketersediaan media pembelajaran IPS yang memadai di sekolah untuk memperlancar pembelajaran IPS khususnya peninggalan sejarah Hindu-Budha kelas V.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsini. 1991. Pengelolaan Materiil.
Darmodjo, Hendro dan Jenny R.E. Kaligis. 1991/1992. Media Pengajaran. Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Djamari, dkk. 1991. Pendidikan IPS 1
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Standar Penilaian Buku Pelajaran Pengetahuan Sosial SD-SMP, (Online), (http://www.dikdasdki.go.id/download/standarbuku/ips.doc, diakses 27 November 2007).
Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Bahan Ajar Kapita Selekta Pembelajaran di SD.
Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran IPS SD/MI.
Ibrahim. 1981. Media Instruksional, P3T, IKIP
Kartadinata, Sunaryo. 1998/1999. Bimbingan di Sekolah Dasar.
Mangkoesapoetra, Arief Achmad. 2004. Quo Vadis, Pendidikan IPS di Indonesia?, (Online), (http://re-searchengines.com/mangkoes-6-04-4.html, diakses 27 November 2007).
Sagala, Syaiful. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran.
Sudijono, Anas. 1991. Pengantar Statistik Pendidikan.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1991. Kamus Besar Bahasa
Tjokrodikaryo, Mulyono dan Soetjipto. 1980. Metodologi Ilmu Pengetahuan Sosial.
Universitas Negeri
Usman, Uzer Moh. 2004. Menjadi Guru Profesional, Pn Remaja Rosdakarya,
Winkel, W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Terjemahan oleh Lilik S. 1987.
